Selanjutnya, dia menyampaikan harapannya agar ekosistem sastra Indonesia, mulai dari sastrawan, komunitas sastra, festival, penerbit, hingga Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia, dapat berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan dalam menyukseskan program-program yang telah dirancang dan dijalankan.

"Kita berharap ke depan lebih banyak keterlibatan dari pegiat sastra untuk mendukung dan berkontribusi bagi kemajuan sastra di Indonesia. Kerja kolaborasi, sinergi dan gotong royong dalam pemajuan kebudayaan khususnya di bidang sastra ini akan menjadi suara yang penting dalam percakapan sastra dunia," jelas Fadli Zon.

Sementara itu, Ketua Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia Pratiwi Juliani menyampaikan bahwa penghargaan sastra tidak semata-mata menjadi cara untuk memilih karya terbaik, tetapi juga sebagai upaya mencatat perjalanan kesusastraan pada suatu masa, termasuk karya, suara, dan persoalan yang muncul serta cara para penulis merespons perubahan dunia.

"Sastra yang baik tidak selalu memberikan jawaban. Sering kali, ia justru membuat kita mengajukan pertanyaan yang mampu melampaui suatu karya itu sendiri," tutup Pratiwi Juliani.

Kusala Sastra Khatulistiwa merupakan penghargaan sastra yang bermula dari Khatulistiwa Literary Award pada 2001, yang digagas Richard Oh bersama Takeshi Ichiki. Penghargaan ini menggunakan nama Kusala Sastra Khatulistiwa sejak 2014.