NADIKABAR.COM — Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menghadiri Plenary Session The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Hotel Indonesia, Jakarta. Diselenggarakan pada 21-25 Oktober 2026, WCCE 2026 mengusung tema "Inclusively Creative: Collective Continuity", yang menekankan pentingnya inklusivitas, kolaborasi, dan keberlanjutan dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif global.
The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 merupakan forum internasional tentang ekonomi kreatif yang mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku industri kreatif, akademisi, kreator, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara. Forum ini membahas peran ekonomi kreatif dalam pembangunan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Fadli menegaskan budaya bukan sekadar cost centre dalam belanja pemerintah, melainkan productive capital yang mendasari inovasi ekonomi kreatif.
Ia menyampaikan Indonesia merupakan negara peradaban (civilizational state) yang ditopang oleh sejarah panjang serta keanekaragaman budaya raksasa (megadiversity). Kekayaan tersebut mencakup lebih dari 1.340 suku bangsa, 718 bahasa daerah, serta ribuan objek pemajuan kebudayaan (OPK).
Fadli pun menegaskan di balik setiap produk kreatif, seperti film, musik, kriya, maupun konten digital, terdapat ekosistem budaya yang luas, mencakup pengetahuan tradisional, narasi sejarah, dan ekspresi artistik lintas generasi. Karena itu, Kementerian Kebudayaan terus berupaya menjembatani dan memperkuat ekosistem budaya dari hulu ke hilir untuk mendorong pemajuan kebudayaan yang berkelanjutan.
"Budaya bukan sekadar komoditas, melainkan fondasi yang harus dilestarikan. Kita perlu mewujudkan apa yang saya sebut sebagai ekonomi budaya sirkular (cultural and creative industries), sebuah proses di mana kebudayaan menginspirasi inovasi, menghasilkan nilai ekonomi, dan hasilnya kembali menopang komunitas budaya serta membina generasi pencipta berikutnya," kata Fadli dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/10/2026).