"Warisan Syekh Yusuf terus menghubungkan masyarakat dari berbagai bangsa dan generasi," ujar Fadli Zon.
Lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, pada 1626, Syekh Yusuf menempuh perjalanan intelektual melalui berbagai pusat keilmuan di Nusantara, India, hingga Timur Tengah. Selain dikenal sebagai ulama dan pemikir sufi, ia juga terlibat dalam perlawanan terhadap ekspansi VOC di Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa.
Setelah ditangkap pada 1683, Syekh Yusuf diasingkan ke Ceylon, yang kini dikenal sebagai Sri Lanka, pada 1684. Ia kemudian dipindahkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, pada 1693.
Fadli Zon juga menyoroti bahwa pengasingan tersebut tidak menghentikan pengaruh intelektual dan spiritual Syekh Yusuf.
"Di Afrika Selatan, ia terus mengajar dan berperan penting dalam membentuk komunitas Muslim awal yang terorganisasi, bahkan dikenal luas sebagai 'Bapak Islam di Afrika Selatan' (Father of Islam in South Africa). Jejak pengaruhnya masih dapat ditemukan hingga kini, termasuk melalui situs kramat dan kawasan Macassar di dekat Cape Town yang dinamai berdasarkan daerah asalnya di Nusantara," ujarnya.
"Perjalanan Syekh Yusuf juga merupakan kisah perlawanan, pengasingan, dan keteguhan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Pengasingan tidak membungkam beliau. Sebaliknya, gagasan dan ajarannya terus hidup serta memberikan pengaruh bagi masyarakat lintas generasi," sambungnya.
Penyelenggaraan peringatan di Belanda juga memiliki makna historis tersendiri, mengingat perjalanan Syekh Yusuf berkaitan erat dengan sejarah kolonial Belanda di Nusantara. Fadli Zon menegaskan pentingnya membuka ruang dialog untuk memperdalam kajian sejarah, membangun pemahaman bersama, dan memperkuat dialog kebudayaan antara Indonesia dan Belanda.