NADIKABAR.COM — Menteri Kebudayaan RI Fasli Zon, menekankan pentingnya menjaga dan mengonservasi kekayaan alam serta keanekaragaman hayati sebagai bagian dari upaya merawat warisan Indonesia.
Menbud Fadli Zon dalam keterangannya diterima di Makassar, Kamis, menyampaikan kekayaan alam dan budaya perlu dipandang sebagai bagian yang saling berkaitan dalam memahami identitas serta keunikan suatu wilayah.
“Geopark ini memiliki kekayaan yang luar biasa, baik dari bentang alam, keanekaragaman hayati, maupun keunikan yang menjadi bagian dari identitas kawasan. Karena itu, kekayaan ini harus terus dijaga, dilindungi, dan dikonservasi," ujarnya.
Menbud yang juga Ketua Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) itu juga mengingatkan pentingnya menjaga komitmen pelestarian dan memenuhi ketentuan UNESCO dalam pengelolaan geopark.
"Sebagai UNESCO Global Geopark, kawasan ini juga memiliki tanggung jawab untuk memenuhi persyaratan pelestarian, edukasi, dan pelaporan secara berkala kepada UNESCO,” ucapnya saat meninjau Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulsel.
Fadli Zon dalam momentum tersebut juga menyoroti keterkaitan kawasan tersebut dengan sejarah penelitian ilmiah, khususnya eksplorasi naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, yang pernah meneliti kupu-kupu di Bantimurung pada abad ke-19.
Menurutnya, kekayaan spesies kupu-kupu dan keunikan vegetasi Sulawesi merupakan bagian penting dari keanekaragaman hayati Indonesia yang perlu terus dipelajari dan dijaga.
“Kupu-kupu Bantimurung merupakan salah satu kekayaan biodiversitas Indonesia yang sangat menarik. Kawasan ini pernah menjadi lokasi penelitian Alfred Russel Wallace dan memiliki keunikan spesies yang menjadi bagian dari kekayaan alam Sulawesi," katanya.
"Kita perlu memastikan keanekaragaman hayati ini tetap terjaga melalui perlindungan dan konservasi yang berkelanjutan,”tambahnya.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merupakan kawasan konservasi di Sulawesi Selatan yang juga dikenal sebagai The Kingdom of Butterfly atau
Kawasan taman nasional ini memiliki luas sekitar 43.077,30 hektar dan dikenal dengan bentang alam karstnya, termasuk formasi menara karst yang menjadi salah satu ciri khas wilayah Maros-Pangkep.
Selain menjadi habitat berbagai flora dan fauna, kawasan geopark juga menyimpan jejak kehidupan dan tradisi masyarakat setempat. Keterkaitan unsur geologi, hayati, dan budaya tersebut menjadikan pelestarian kawasan penting dilakukan secara terpadu.