NADIKABAR.COM β Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah tengah mengomunikasikan kemungkinan pemberian subsidi untuk pakan ayam sebagai salah satu upaya mengatasi tingginya harga pakan ayam yang membebani peternak.
Pernyataan tersebut disampaikan Budi merespons keluhan peternak yang tergabung dalam Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional (PPN) mengenai lonjakan harga pakan ayam yang meningkatkan biaya operasional peternakan.
βKita sekarang lagi komunikasikan, kita akan cari solusinya segera,β ujar Budi di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, tingginya harga minyak menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi harga pakan. Pemerintah, kata dia, akan mengambil langkah agar harga pakan ayam tetap terjangkau bagi peternak.
Budi menjelaskan opsi subsidi untuk pakan ayam masih dalam tahap pembahasan dan belum ada keputusan mengenai skema yang akan diterapkan.
Sebelumnya, pemerintah juga sudah mengumumkan pemberian subsidi untuk impor kedelai bagi perajin tahu dan tempe sebesar Rp2.000 kilogram.
Para peternak yang tergabung dalam Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional (PPN) mendatangi Komisi IV DPR RI di Jakarta, Rabu (7/10).
Mereka mengeluhkan kelangkaan serta lonjakan harga jagung dan bungkil kedelai yang merupakan bahan baku utama pakan.
Perwakilan PPN Suardi menjelaskan, jagung dan bungkil kedelai menyumbang porsi besar dalam pakan ayam petelur, yakni masing-masing 50 persen dan 25 persen dari total biaya produksi.
Menurut Suardi, harga bungkil kedelai yang semula normal di kisaran Rp7.200βRp7.500 per kilogram, kini melonjak drastis hingga menyentuh Rp9.900βRp10.000 per kilogram.
Adapun harga telur ayam ras segar di tingkat konsumen mencapai Rp29.750 per kilogram, sedangkan harga di tingkat produsen Rp25.600 per kilogram, menurut Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional Bank Indonesia pada 8 Oktober.