NADIKABAR.COM — Sebanyak 156 orang mengalami luka-luka dalam aksi unjuk rasa mahasiswa di ibu kota Albania, Tirana, sejak Selasa, termasuk 97 personel kepolisian, kata Menteri Dalam Negeri Albania Ervin Demo, Jumat (16/10).
Dalam beberapa hari terakhir, mahasiswa dan pendukung mereka di Tirana melemparkan batu, kembang api, dan bom molotov ke arah polisi serta gedung-gedung pemerintah.
Mereka juga menyerbu gedung kementerian dan merusak jendela toko serta kios di sepanjang jalan-jalan utama. Polisi merespons dengan menembakkan gas air mata dan menyemprotkan meriam air.
"Secara keseluruhan, 156 orang luka-luka selama kerusuhan di Tirana, termasuk 97 personel kepolisian, 12 orang yang melintas, dan empat anak di bawah umur," kata Demo, seperti dikutip kantor berita Albania, ATA.
Di tengah aksi unjuk rasa dan kerusuhan tersebut, Perdana Menteri Albania sekaligus pemimpin Partai Sosialis, Edi Rama, mengatakan terdapat campur tangan asing yang bertujuan menghambat langkah negara itu menuju keanggotaan Uni Eropa (UE).
Aksi unjuk rasa mahasiswa dimulai di Albania untuk memprotes tingginya biaya pendidikan, buruknya kondisi belajar, dan minimnya lapangan kerja yang sesuai dengan bidang studi para lulusan.
Para pengunjuk rasa juga menuntut pengunduran diri Rama. Ia mengecam aksi kekerasan di jalanan dan menolak mundur dari jabatannya.
Pada Kamis, Kedutaan Besar Rusia di Albania mengimbau warga negara Rusia yang berada di negara tersebut untuk menghindari kerumunan besar menyusul aksi unjuk rasa dan kerusuhan yang terjadi.