Ia juga menyoroti data yang menyatakan 4 dari 10 siswa di dunia belum mencapai tingkat kemahiran minimum dalam membaca di akhir jenjang sekolah dasar (SD). Data ini menurut Mu'ti menunjukkan kekurangan akses terhadap hak dasar terhadap pendidikan.

"Ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang belum mendapatkan akses terhadap hak dasar mereka, hak untuk belajar, memahami, dan berkembang," bebernya.

Pada masa kini, Hari Aksara Internasional dipandang lebih luas dan modern, tak sekadar kemampuan membaca dan menulis. Kehadiran kecerdasan artificial, perkembangan teknologi digital, krisis lingkungan, dan perubahan sosial mengharuskan masyarakat semakin peka.

Peka dalam hal ini adalah mereka harus mampu memahami informasi secara kritis dan berpikir reflektif terhadap konten yang dikonsumsi. Segala informasi yang didapat perlu digunakan untuk memperbaiki kehidupan dan lingkungan.

"Literasi hari ini adalah tentang kemampuan membaca dunia, memahami realitas sosial, lingkungan, dan ekonomi serta mengambil tindakan untuk menjadikan dunia lebih baik lagi," sampainya.