NADIKABAR.COM — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono meninjau langsung hasil program revitalisasi sekolah di SD Negeri Cirimekar 02, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan untuk melihat hasil program Revitalisasi Satuan Pendidikan, pemanfaatan program Digitalisasi Pembelajaran serta makan bersama anak-anak melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Mendikdasmen Mu’ti dalam pernyataan tertulis yang disiarkan oleh Kemendikdasmen di Jakarta Pusat pada Kamis memberikan pesan kepada para murid untuk memanfaatkan lingkungan belajar yang semakin baik dengan meningkatkan semangat belajar.

Pada kesempatan tersebut, Kepala SD Negeri Cirimekar 02 Bagus Eko Kurniawan mengatakan kondisi sekolah sebelum direvitalisasi cukup memprihatinkan karena ruang kelas mengalami kebocoran, plafon rusak berat, dan lantai juga mengalami kerusakan.

Melalui program revitalisasi dengan nilai bantuan Rp951.543.177, ia mengatakan sekolah tersebut mendapatkan rehabilitasi tiga ruang kelas dan ruang UKS, pembangunan toilet beserta sanitasinya, serta pembangunan ruang administrasi.

Perbaikan tersebut, lanjut Bagus, tidak hanya mengubah kondisi fisik sekolah, tetapi juga membuat kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan lebih baik. Guru, murid, dan orang tua murid turut menyambut perubahan tersebut.

“Revitalisasi membawa dampak yang signifikan terhadap sarana dan prasarana di sekolah kami, sehingga pembelajaran di sekolah pun berjalan dengan baik,” kata Bagus.

Selain revitalisasi, SD Negeri Cirimekar 02 juga menerima program Digitalisasi Pembelajaran berupa Interactive Flat Panel (IFP).

Guru kelas V Satya Dewanta mengatakan IFP telah dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran selama sekitar satu tahun.

Mata pelajaran IPA menjadi salah satu yang paling sering memanfaatkan perangkat tersebut, antara lain untuk memvisualisasikan bagian tubuh, bunyi, cahaya, dan berbagai materi lainnya.

Menurut Satya, penggunaan IFP membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan keseharian anak-anak yang sudah terbiasa berinteraksi dengan perangkat digital.

“Mereka lebih berani mengungkapkan pendapat. Mereka lebih terpantik lagi motivasinya untuk belajar dengan adanya IFP ini,” kata Satya.