β€œJika memang (memungkinkan), mulai bulan Juni biasanya mahasiswa sudah bisa bergerak,” ujar dia.

Menurut dia, perguruan tinggi memiliki sumber daya berupa dosen, mahasiswa, laboratorium, hasil penelitian, serta berbagai inovasi yang dapat dilibatkan dalam pengelolaan gambut.

Keterlibatan mahasiswa diharapkan membuat hasil penelitian dan pengetahuan dari kampus dapat diterapkan untuk membantu penyelesaian persoalan di lapangan sekaligus memperkuat pengabdian kepada masyarakat.

Brian juga membuka peluang menghubungkan keterlibatan perguruan tinggi tersebut dengan program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang dijalankan Kementerian Transmigrasi.

β€œProgram Patriot itu juga mungkin kita bisa nanti bertiga (Kementerian Kehutanan, Kemendiktisaintek, dan Kementerian Transmigrasi), kita launching juga khusus untuk enam provinsi dalam topik atau dengan tema menjaga atau mengelola lahan gambut,” kata Brian.

Pada 2026, Kementerian Transmigrasi menerjunkan 1.476 peserta TEP yang tergabung dalam 246 tim ke 53 kawasan transmigrasi untuk melaksanakan riset, pendampingan, pemberdayaan, serta tindak lanjut pengembangan potensi kawasan.TEP 2026 melibatkan 10 perguruan tinggi mitra utama, yakni Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, IPB University, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Universitas Padjadjaran, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.