"Harapannya mereka juga mengampanyekan teman-teman sebayanya kalau ada masalah, sehingga tidak disimpan, dan justru karena simpanan masalah inilah yang bagian dari potensi gangguan kesehatan mental. Kita tadi juga sudah mendengarkan curhatan mereka, ada yang pernah mem-bully, ada yang pernah di-bully, kemudian ada yang pernah sakit hati, ada yang pernah terluka, dan mereka alhamdulillah mau membuka diri," katanya.

Selain menyediakan fasilitas bagi teman sebaya di sekolah, pemerintah juga memastikan keterjangkauan layanan kesehatan mental melalui psikolog dan psikiater.

"Sehingga kita juga datangkan psikolog, kemudian ada dokter ahli juga, yang ini bagian dari pemerintah hadir memberikan akses kepada remaja-remaja Indonesia," katanya.