Karena itu, substansi Jakarta Vision perlu dibangun melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi yang memiliki kapasitas dalam riset, pengembangan inovasi, serta penyediaan basis pengetahuan.

β€œKeberhasilan Indonesia bukan hanya diukur dari penyelenggaraan WCCE 2026, tetapi juga dari key output berupa Jakarta Vision yang dapat menawarkan gagasan dan arah baru bagi perkembangan ekonomi kreatif global,” katanya.

Jakarta Vision mencakup empat klaster utama, yakni teknologi, kecerdasan artifisial (AI) dan transformasi digital; keberlanjutan, ekonomi sirkular dan desain regeneratif; inklusivitas dan pemberdayaan masyarakat; serta perlindungan kekayaan intelektual (KI) yang berimbang bagi para kreator.

Keterlibatan perguruan tinggi juga dinilai relevan dengan besarnya peran ekonomi kreatif dalam penciptaan lapangan kerja dan pengembangan talenta muda.

Pada 2025, sektor ekonomi kreatif tercatat menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja. Dari jumlah tersebut, sekitar 63 persen berasal dari Generasi Z dan Milenial, sementara 58 persen merupakan pekerja perempuan.