"Kami ingin menghadirkan terobosan pembiayaan yang memanfaatkan perkembangan teknologi digital seperti blockchain untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif Indonesia," kata Riefky.

Dia menyebut pengembangan skema tersebut dapat dikolaborasikan dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk melalui sejumlah program seperti Ekraf Data dan Dana Ekraf.

Kementerian Ekonomi Kreatif juga melihat penguatan pembiayaan ekraf tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan usaha, tetapi memiliki keterkaitan dengan keberlanjutan kelas menengah. Dengan akses pendanaan yang lebih luas, pelaku usaha kreatif diharapkan dapat mengembangkan kapasitas produksi, menciptakan pekerjaan, dan meningkatkan pendapatan.

Dalam pertemuan tersebut, InFast Bestari turut menyoroti kondisi kelompok kelas menengah yang rentan secara ekonomi. Direktur Riset dan Database InFast Bestari Hizkia Yosias Polimpung menyebut kelompok tersebut sebagai the missing middle, yakni masyarakat yang tidak masuk dalam kelompok penerima bantuan sosial tetapi menghadapi tekanan ekonomi.