Pelestarian tradisi, menurut Jahuri, bukan berarti menolak perubahan zaman. Justru, masyarakat harus mampu berjalan mengikuti perkembangan tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.

Tradisi dan modernitas, kata dia, tidak harus saling meniadakan. Kemajuan dapat terus dikejar, teknologi dapat terus berkembang, tetapi sejarah dan budaya tetap harus memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat.

Prosesi jamasan di tempat penyimpanan pusaka Mbah Buyut Sangkan pun menjadi lebih dari sekadar ritual membersihkan benda-benda peninggalan leluhur.

Di sana, masyarakat Jungjang Wetan seolah diajak kembali menelusuri jejak masa lalu. Mengingat siapa yang pernah membangun desa, memahami nilai-nilai yang diwariskan, dan mengambil pelajaran untuk menjalani kehidupan hari ini.

Sebab pada akhirnya, air yang membasuh pusaka bukan hanya dimaknai sebagai upaya menjaga peninggalan masa silam. "Jamasan menjadi pengingat bahwa manusia pun perlu membersihkan dirinya dari waktu ke waktu untuk menjaga hati, memperbaiki perilaku, dan tidak melupakan akar sejarah tempat ia berpijak," ungkapnya.

Kisah tentang Mbah Buyut Sangkan menjadi perjalanan Desa Jungjang Wetan, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan para leluhur akan terus hidup, berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa harus hilang ditelan zaman.