NADIKABAR.COM — Setiap lembar kain batik keberadaannya tidak terlepas dari perjalanan sosial dan budaya masyarakat di berbagai daerah Indonesia. Namun, ketika zaman berubah turut memengaruhi tradisi batik yang dahulu memiliki masa keemasan dan kini menanti kembali dikenal khalayak luas. Batik telah menjadi bagian dari identitas nasional yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Meski sejumlah jenis batik telah dikenal luas dan masih banyak digunakan, terdapat pula batik yang berjuang untuk hidup di bayang-bayang masa keemasan yang sudah lampau, seperti yang dialami Batik Kudus, Demak dan Banyumas. Tradisi batik dari tiga daerah itu menghadapi pasang surut hingga keberadaannya tidak lagi sepopuler masa lalu.
Berkurangnya regenerasi pembatik, perubahan pola kehidupan masyarakat, perkembangan selera, serta berbagai faktor sosial dan ekonomi turut memengaruhi keberlanjutan tradisi batik tersebut.“Batik yang berjuang ini perlu kita perkenalkan lagi, karena mau bagaimanapun batik ini tetap merupakan salah satu dari identitas nasional kita, dengan keindahannya yang tidak kalah menarik untuk mata dan hati,” kata Zahwa kepada NadiKabar di Jakarta. Beragamnya tradisi batik di berbagai daerah dengan setiap lembar kain, motif menyimpan jejak sejarah, kreativitas, serta kehidupan masyarakat pada zamannya. Karena itu, pengenalan kembali menjadi salah satu cara untuk menjaga jejak tersebut tetap hidup.
Sebagian besar berupa batik tulis dan koleksi yang ditampilkan merupakan koleksi lama Museum Tekstil. Batik Kudus, Demak, dan Banyumas memiliki karakteristik dengan motif-motif stilasi alam, seperti batik pesisir umumnya. Batik Kudus menampilkan karakter motif yang besar dan berani, berpadu dengan latar yang kaya akan isen-isen dengan detail. Koleksi yang ditampilkan antara lain Kain Panjang berupa batik tulis berbahan katun gaya kudusan dengan motif tanaman air, kyai janggar, dan beras mawur. Ada pula Kain Panjang Pagi Sore Sore Bolak Balik dengan motif buket, burung, kupu-kupu, dan sisik ulo.Batik Demak menampilkan karakter pesisir yang berpadu dengan stilisasi flora. Salah satu yang ditampilkan Kain Panjang Pagi Sore, batik tulis berbahan katun dengan motif tabur bunga susymoyo lungkembang ukel tapaitik, ceplok nitik, dan iseng semarangan.Adapun Batik Banyumas memiliki memiliki karakter yang kuat dengan garis dan motif yang tegas. Koleksi yang dipamerkan antara lain Kain Panjang berbahan katun dengan motif lung lungan, burung dengan latar andang mukti, ukel. Selain itu, terdapat Kain Panjang Batik berupa batik tulis berbahan katun dengan motif Buketan Tambal. “Ketiga daerah ini memiliki pengaruh islam yang cukup kuat karena karya Batik daerah tersebut dipelopori oleh figur Muslim di Indonesia yang terkenal seperti Sultan Agung di Kudus, Sunan Kalijaga di Demak bahkan sampai Najendra, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di Banyumas,” tutur Zahwa. Kepala Unit Pengelola Museum Seni, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Sri Kusumawati mengatakan museum Tekstil menjaga batik tidak cukup hanya dengan menjaga kainnya.
Pengetahuan mengenai pembuatnya, daerah asal, teknik, motif, pewarnaan, fungsi, serta cerita masyarakat di balik kain tersebut juga harus didokumentasikan. Melalui upaya itu, museum dapat menjadi ruang yang menghubungkan warisan masa lalu dengan perkembangan batik masa kini dan generasi yang akan datang. Seperti halnya pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” hadir untuk mempertemukan kembali masyarakat dengan koleksi Batik Kudus, Demak, dan Banyumas serta membuka ruang dialog mengenai perjalanan, keindahan, dan keberlanjutannya.“Meskipun masa kejayaannya mungkin telah berlalu, jejak keterampilan, kreativitas, dan nilai budaya yang terkandung dalam karya-karya tersebut tetap hidup hingga hari ini,” ujar Sri, kepada NadiKabar di Jakarta.Momentum Hari Batik Nasional mengingatkan bahwa batik bukan sekadar kain atau busana, melainkan bagian dari identitas dan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Melalui pameran pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas”, Museum Tekstil ingin mengedukasi masyarakat dengan harapan dapat membantu batik-batik tersebut untuk kembali hidup dan dikenal luas oleh masyarakat seperti dahulu. Sebab, keberlangsungan batik dinilai turut ditentukan oleh masyarakat yang mencintai, mengenal, dan menggunakannya. Mari menengok pesona Batik Kudus, Demak, dan Banyumas dalam pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” di Museum Tekstil Jakarta yang hadir hingga 2 November 2026.