Namun, penggunaan pinjaman untuk menutup kebutuhan rutin perlu diperhitungkan secara hati-hati. Jika pendapatan tidak cukup untuk membayar cicilan, pengguna berisiko kembali meminjam dan menghadapi tumpukan kewajiban pembayaran.
Paylater kerap menawarkan potongan harga, cashback, atau promosi khusus bagi pengguna yang memilih metode pembayaran tersebut.
Survei menemukan bahwa 40 persen responden Gen Z dan milenial menggunakan paylater karena tertarik mengumpulkan poin cashback atau memanfaatkan promosi.
Survei terhadap 2.153 responden itu juga mencatat bahwa 59 persen menggunakan paylater sebagai alat untuk mengatur keuangan. Meski demikian, promosi tetap perlu dipertimbangkan berdasarkan total biaya transaksi dan kemampuan membayar cicilan.
5. Digunakan untuk kebutuhan gaya hidup
Selain kebutuhan mendesak, sebagian anak muda menggunakan pembiayaan digital untuk memenuhi keinginan konsumtif.
Survei Muda Bicara ID pada 2026 mencatat 15,9 persen responden menggunakan pinjol atau paylater untuk membeli barang tersier atau memenuhi kebutuhan gaya hidup. Sementara itu, 9,3 persen menggunakannya untuk rekreasi yang membutuhkan biaya besar, seperti konser musik dan liburan.
Penggunaan untuk kebutuhan nonprioritas perlu diperhatikan karena barang atau pengalaman yang dibeli dapat habis dinikmati, sedangkan kewajiban cicilannya tetap harus dibayar pada periode berikutnya.
Meski sama-sama menawarkan pembiayaan digital, pinjol dan paylater memiliki fungsi yang berbeda.
Pinjaman online atau pinjol merupakan layanan pinjaman uang melalui platform digital. Dana pinjaman dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan sesuai ketentuan penyedia layanan.
Sementara itu, paylater merupakan fasilitas pembayaran yang memungkinkan pengguna membeli barang atau jasa terlebih dahulu dan membayarnya kemudian, baik secara penuh pada tanggal tertentu maupun melalui cicilan sesuai pilihan yang tersedia.
Perbedaan tersebut penting dipahami sebelum menggunakan layanan pembiayaan. Pengguna perlu mengetahui jumlah dana yang diterima atau nilai transaksi, bunga, biaya administrasi, tenor, denda keterlambatan, serta total kewajiban yang harus dibayarkan.
Risiko menggunakan pinjol dan paylater
Kemudahan memperoleh pembiayaan digital perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai risiko keuangan. Tanpa perencanaan yang baik, penggunaan pinjol dan paylater dapat menimbulkan sejumlah persoalan.
Pertama, cicilan yang menumpuk dapat mengurangi pendapatan bulanan. Jika seseorang memiliki beberapa pinjaman sekaligus, sebagian besar penghasilannya berpotensi habis untuk membayar kewajiban.
Kedua, keterlambatan pembayaran dapat menimbulkan biaya tambahan sesuai perjanjian. Kondisi ini membuat jumlah kewajiban semakin besar apabila pengguna tidak segera menyelesaikannya.
Ketiga, penggunaan pinjaman baru untuk membayar utang lama dapat menciptakan lingkaran utang. Kebiasaan tersebut berisiko membuat kondisi keuangan semakin sulit dikendalikan.
Keempat, pengguna juga perlu mewaspadai penyedia pinjaman ilegal. Penawaran melalui pesan singkat atau media sosial yang menjanjikan pencairan instan tanpa ketentuan jelas patut dicurigai.