Data penggunaan paylater di Indonesia
Tren penggunaan paylater juga terlihat dari perkembangan pembiayaan di sektor perbankan.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan outstanding atau nilai pinjaman paylater perbankan mencapai Rp31,56 triliun pada Juli 2026. Jumlah rekening pengguna tercatat sebanyak 33,50 juta, dengan pertumbuhan pembiayaan sebesar 31,22 persen secara tahunan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa layanan paylater telah menjadi bagian dari aktivitas pembiayaan masyarakat. Meski demikian, jumlah rekening tidak selalu sama dengan jumlah individu karena satu orang dapat memiliki lebih dari satu rekening atau fasilitas pembiayaan.
Data tersebut juga perlu dibedakan dari pembiayaan melalui perusahaan teknologi finansial atau fintech lending. Keduanya memiliki karakteristik dan pencatatan yang berbeda sehingga tidak tepat jika seluruh angkanya langsung digabungkan.
Tips menggunakan pinjol dan paylater secara bijak
Agar tidak terjebak dalam beban cicilan, anak muda perlu mempertimbangkan beberapa hal sebelum menggunakan layanan pembiayaan digital.
1. Gunakan untuk kebutuhan prioritas
Hindari mengambil pinjaman hanya karena tergoda diskon, tren, atau keinginan membeli barang yang belum dibutuhkan.
2. Periksa legalitas penyedia layanan
Pastikan perusahaan pinjaman atau penyedia pembiayaan memiliki izin dan berada dalam pengawasan OJK sesuai jenis layanan yang ditawarkan.
Sesuaikan cicilan dengan pendapatan dan pengeluaran rutin agar kewajiban pembayaran tidak mengganggu kebutuhan pokok.
Periksa bunga, biaya administrasi, denda keterlambatan, serta total pembayaran sebelum menyetujui transaksi.
5. Hindari gali lubang tutup lubang
Jangan mengambil pinjaman baru hanya untuk membayar cicilan dari pinjaman sebelumnya.
Jangan memberikan kode OTP, PIN, kata sandi, atau informasi sensitif kepada pihak yang mengaku sebagai petugas layanan keuangan.
Penggunaan pinjol dan paylater pada dasarnya merupakan keputusan finansial yang perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Kemudahan akses dan kecepatan transaksi memang dapat membantu dalam situasi tertentu, tetapi keduanya tetap memiliki kewajiban pembayaran.
Tingginya penggunaan pembiayaan digital di kalangan anak muda menjadi pengingat bahwa literasi keuangan perlu berjalan seiring dengan perkembangan teknologi. Memahami kebutuhan, menghitung kemampuan membayar, dan mengenali risiko menjadi langkah penting agar layanan tersebut tidak berubah menjadi beban keuangan.