Angin dari arah laut dapat membawa udara yang mengandung banyak uap air menuju daratan. Ketika udara lembap tersebut bertemu dengan kondisi atmosfer yang mendukung dan dipengaruhi topografi pegunungan, pembentukan awan hujan dapat semakin aktif.

Jadi, Bogor seolah berada di lokasi yang cukup ideal untuk "mengumpulkan" dua bahan penting pembentuk hujan, yakni udara lembap dan kondisi geografis yang membantu udara naik.

Menariknya, hujan di Bogor bukan hanya sering, tetapi juga memiliki pola waktu yang cukup khas.

Berdasarkan penelitian IPB menggunakan data tahun 2017-2020, curah hujan di Kota Bogor cenderung meningkat dari siang hingga malam dengan puncak pada sore hari.

Pada periode Desember hingga Februari, hujan bahkan dapat terjadi hampir setiap jam. Peningkatan kejadian hujan terlihat terutama sekitar pukul 15.00 hingga 18.00 WIB.

Pola tersebut berkaitan dengan pemanasan permukaan bumi pada siang hari.

Ketika matahari memanaskan permukaan, udara di dekat tanah menjadi lebih hangat dan naik. Jika udara tersebut cukup lembap, proses ini dapat memicu pertumbuhan awan konvektif.

Itulah sebabnya siang yang terasa panas di Bogor tidak selalu berarti sore harinya akan tetap cerah. Justru, pemanasan pada siang hari bisa menjadi salah satu bagian dari proses yang kemudian menghasilkan hujan.

Meski kondisi geografis menjadi salah satu alasan penting, hujan di Bogor tetap dipengaruhi oleh kondisi atmosfer yang lebih luas.

BMKG dalam sejumlah analisis cuaca di Jawa Barat mencatat beberapa faktor yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan, seperti kelembapan udara yang tinggi, suhu muka laut yang relatif hangat, pertemuan atau belokan angin, serta kondisi atmosfer yang labil.

Artinya, ketika kondisi-kondisi tersebut muncul bersamaan dengan faktor lokal Bogor, potensi hujan dapat semakin besar.