Dalam beberapa kejadian cuaca ekstrem, BMKG juga menemukan adanya pengaruh topografi pegunungan atau efek orografis terhadap pertumbuhan awan hujan di Jawa Barat, termasuk wilayah Bogor.
Jadi, tidak tepat jika hujan di Bogor hanya disebabkan oleh satu faktor.
Ada kombinasi antara letak geografis, pegunungan, pasokan uap air dari laut, pemanasan matahari, angin dan dinamika atmosfer yang bekerja bersama.
Tentu tidak. Julukan Kota Hujan bukan berarti Bogor akan diguyur hujan setiap hari atau sepanjang waktu. Intensitas dan frekuensi hujan tetap berubah mengikuti musim serta kondisi atmosfer.
Penelitian IPB menunjukkan bahwa pola hujan Bogor juga mengalami perubahan sepanjang tahun. Pada Desember hingga Februari, hujan dapat terjadi hampir setiap jam, sementara pada Juni hingga Agustus hujan malam hingga awal siang jauh lebih jarang.
Penelitian lain mengenai pola curah hujan sejumlah kota besar di Indonesia juga menemukan bahwa Bogor memiliki persentase bulan basah yang tinggi dan curah hujan tahunan yang relatif tinggi dibandingkan wilayah lain yang diteliti.
Jadi, kalau suatu sore tiba-tiba hujan deras saat sedang berada di Bogor, sebenarnya ada proses panjang yang sudah berlangsung di atmosfer.
Udara lembap datang, matahari memanaskan permukaan, udara bergerak naik, pegunungan membantu proses pengangkatan udara, awan tumbuh, lalu air akhirnya jatuh kembali ke permukaan sebagai hujan.
Dengan kata lain, Bogor bukan "dikutuk" untuk selalu kehujanan. Kota ini memang memiliki kombinasi kondisi geografis dan atmosfer yang membuat hujan relatif mudah terbentuk.
Itulah alasan mengapa payung menjadi salah satu barang yang cukup masuk akal untuk selalu dibawa ketika beraktivitas di Bogor.