Akibatnya, seorang sarjana bisa saja memiliki ijazah pendidikan tinggi, tetapi tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang studinya. Bahkan, ketika berhasil memperoleh pekerjaan, tidak sedikit lulusan yang akhirnya bekerja di bidang yang tidak berkaitan langsung dengan pendidikan mereka.

"Gelar sarjana tidak lagi dapat menjadi jaminan seseorang untuk memperoleh pekerjaan dan meningkatkan taraf hidupnya," kata Bagong.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan lulusan. Arah pembangunan ekonomi juga menentukan seberapa luas kesempatan kerja yang tersedia.

Karena itu, Bagong mendorong perubahan orientasi pembangunan dengan lebih mengembangkan industri padat karya. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi juga bisa menciptakan lebih banyak kesempatan kerja.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kualitas pendidikan tinggi. Menurut Bagong, Indonesia tidak cukup hanya meningkatkan jumlah masyarakat yang berhasil memperoleh gelar sarjana.