Dijelaskan dalam laman Foras Taighde ar Oideachas Educational Research Centre, sekolah yang dipilih akan merepresentasikan kombinasi berdasarkan ukuran sekolah, lokasi, jenis, gender siswa, hingga komposisi sosioekonominya. Dari sekolah tersebut kemudian diambil siswa untuk menjadi peserta PISA.

Dikutip dari laman OECD, Australia, Kanada, Denmark, dan Swiss telah melakukan studi longitudinal untuk memantau siswa yang mengikuti penilaian PISA pertama pada awal tahun 2000-an hingga mereka beranjak dewasa. Di semua negara tersebut, siswa dengan hasil baik dalam tes PISA saat usia 15 tahun cenderung mampu mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi saat berusia 25 tahun.

Mereka juga memiliki kemungkinan lebih kecil untuk sepenuhnya tidak bekerja atau tidak aktif mencari kerja. Hal tersebut diukur melalui persentase status tidak sedang menempuh pendidikan, bekerja, ataupun mengikuti pelatihan atau not in education, employment, or training (NEET).