NADIKABAR.COM — Sekitar satu dekade yang lalu, tepatnya 7 September 2016, majalah Forbes menurunkan laporan berjudul "Vietnam Poised To Be Asia's Next Economic Tiger." Pada saat itu, pertumbuhan ekonomi Vietnam secara tahunan sekitar 6,68%. Jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya 4,94%.

Modal utama Vietnam menjadi "macan Asia baru" adalah jumlah populasi sekitar 90 juta orang yang mayoritas berusia muda. Usia median (tengah) sekitar 30,7 tahun. Pada umumnya adalah pekerja berpendidikan dan berketerampilan tinggi.

Lebih dari satu dekade yang lalu, sesuai laporan Forbes (7/9/2016) pengeluaran pemerintah Vietnam untuk sektor pendidikan mencapai sekitar 6,3% dari Gross Domestic Product-nya (GDP).

Atau sebesar 4,4% GDP Vietnam pada tahun 2016 menurut data World Bank, dalam hal ini UNESCO institute for statistics. Jauh lebih tinggi dibandingkan anggaran pendidikan Indonesia yang hanya 3,3% GDP-nya pada tahun 2016 (UNESCO - World Bank, 2016).

Pengeluaran pendidikan yang besar membuat rangking global nilai matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) anak berusia 15 tahun di Vietnam secara regular mengalahkan Amerika Serikat (AS) dan United Kingdom (UK).

Hal ini berdampak pada tingginya kapasitas dan keterampilan tenaga kerja Vietnam dalam menyelesaikan pekerjaan yang sangat kompleks. Ketersediaan tenaga kerja terampil dan berpengetahuan tinggi menjadi modal awal mengadopsi teknologi manufaktur terbaru yang masuk ke Vietnam melalui Foreign Direct Investment (FDI).

Fenomena keajaiban ekonomi Vietnam mengingatkan kita pada terminologi "Asian Tiger" atau "Macan Asia" mewakili keajaiban transformasi ekonomi Korea Selatan (Korea), Taiwan, Singapura dan Hong Kong beberapa dekade sebelumnya.

Istilah "Macan Asia" diberikan kepada negara Asia yang mampu mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi secara berkesinambungan dalam satu dekade atau lebih. Serta mengalami kemajuan pesat dalam industri manufaktur, berinvestasi dalam pengembangan teknologi dan memiliki kapasitas inovasi kuat yang mendukung kemajuan industri manufaktur.

Terminologi "Macan Asia" diberikan kepada negara dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tinggi, memiliki angkatan kerja terdidik dan terampil lebih dari separuh angkatan kerja (labor force).

Ketersediaan tenaga kerja terdidik dan terampil yang tinggi membuat Global Innovation Index (GII) Vietnam tahun 2026 naik menjadi peringkat 43. Jauh meninggalkan Indonesia yang berada di peringkat 55 dunia.

Nilai GII yang tinggi mencerminkan kemampuan suatu negara mentransformasi ekonominya memasuki innovation based economy, yaitu perekonomian berbasis inovasi yang digerakkan oleh Research and Development (R&D).