Risiko yang lebih besar dapat dialami oleh kelompok tertentu, termasuk penderita asma dan orang yang memiliki gangguan pada sistem pernapasan.
Karena itu, masyarakat yang berada di daerah terdampak sebaran abu vulkanik perlu mengurangi paparan langsung terhadap udara yang mengandung partikel tersebut.
Bahaya abu vulkanik tidak hanya berkaitan dengan paru-paru.
Partikel halus yang beterbangan dapat masuk ke mata dan menyebabkan rasa perih, gatal, hingga iritasi. Abu yang menempel pada kulit juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman.
Menurut Daryono, material vulkanik dapat memiliki kandungan mineral dan senyawa kimia tertentu. Ketika partikel tersebut bersentuhan dengan jaringan tubuh yang lembap, seperti mata dan saluran pernapasan, risiko iritasi dapat meningkat.
Karena itu, penggunaan pelindung mata menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan ketika harus berada di luar ruangan saat terjadi sebaran abu.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam paparan abu vulkanik adalah kandungan silika.
Paparan partikel silika dalam jumlah tertentu dan dalam waktu yang lama dapat menimbulkan gangguan serius pada paru-paru. Endapan partikel di dalam sistem pernapasan berpotensi memengaruhi kesehatan dan fungsi paru-paru.
Karena itu, paparan abu vulkanik sebaiknya tidak dianggap sepele, terutama apabila terjadi secara terus-menerus.
Masyarakat perlu menghindari aktivitas yang membuat partikel abu mudah terhirup, termasuk membersihkan abu dengan cara yang menyebabkan material kembali beterbangan ke udara.
Salah satu persoalan penting saat terjadi hujan abu adalah pemilihan masker.