Pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas”, kata Sri, menghadirkan 60 koleksi yang terdiri dari 3 batik Demak, 15 batik Kudus dan 42 batik Banyumas. Koleksi yang ditampilkan merupakan koleksi lama Museum Tekstil.

Sri mengatakan ketiga tradisi batik tersebut merupakan bagian dari perjalanan sosial dan budaya masyarakat di daerahnya masing-masing. Namun, seiring perubahan zaman, keberadaannya mengalami pasang surut.

“Berkurangnya regenerasi pembatik, perubahan pola kehidupan masyarakat, perkembangan selera, serta berbagai faktor sosial dan ekonomi turut memengaruhi keberlanjutan tradisi tersebut,” tutur dia.

Pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” hadir untuk mempertemukan kembali masyarakat dengan koleksi Batik Kudus, Demak, dan Banyumas serta membuka ruang dialog mengenai perjalanan, keindahan, dan keberlanjutannya.

“Meskipun masa kejayaannya mungkin telah berlalu, jejak keterampilan, kreativitas, dan nilai budaya yang terkandung dalam karya-karya tersebut tetap hidup hingga hari ini,” ujar Sri.