Berbeda dengan memadamkan api di permukiman, memadamkan api di Gunung Ciremai memiliki tantangan tersendiri. Medan yang terjal, berbatu, serta vegetasi yang mudah terbakar membuat proses pemadaman menjadi sulit. Jika kondisi tersebut terjadi, biasanya para petani akan langsung membuat sekat bakar di lahan yang belum terdampak. Tujuannya untuk mencegah api semakin meluas.
"Antisipasi harus kita lakukan dengan cara sekat bakar. Ketika titik api baru sedikit, mungkin kita harus cepat antisipasi karena kalau sudah menyebar akan beda ceritanya dan akan sulit untuk memadamkan api. Ketika kita memadamkan api dengan medan-medan yang berbeda-beda, kayak di sini nih medannya berbatu dan akar-akar yang banyak. Dulu pernah saya berempat pemadaman api, hampir terperosok di api. Alhamdulillah waktu itu saya bisa tarik juga," tutur Nandar.
Sementara itu, untuk mengatasi keterbatasan akses kendaraan pemadam umum, warga memodifikasi peralatan pertanian untuk membawa air agar lebih portabel dan mudah dibawa menembus kerapatan hutan yang terbakar.
"Kita punya selang pemadam kebakaran ini ada 90 meter dan kita bisa lebih portable lah. Ini kita bisa bawa ke tengah hutan ketika di tengah hutan itu ada embung atau tempat penyimpanan air. Kita bisa lebih menjangkau area-area yang susah dijangkau oleh mobil kayak double cabin. Di tahun ini saja itu, ada 4 kali kebakaran yang ditangani," tutur Nandar.
Kini, setelah lebih dari lima tahun berdiri, kekuatan MPA Gunung Ciremai telah memiliki ribuan anggota yang tersebar di puluhan desa. Untuk memudahkan koordinasi, di setiap desa dibentuk kepala unit Masyarakat Peduli Api sendiri. Selain memadamkan api, MPA juga aktif melakukan sosialisasi dan penanaman pohon untuk menjaga ekosistem hutan.