"Total anggota KTH ada 1.076 orang, mereka otomatis harus jadi MPA. Itu ada di sekeliling Ciremai, ada 28 KTH. Hampir sudah mengcover seluruh wilayah seperti Padabeunghar, Pasawahan, Cibuntu, Karangsari dan Segarahiyang. Nggak kebakaran aja, kita di sini banyak hal-hal juga. Mereka yang punya kebiasaan untuk berburu, ilegal logging, kita bisa alihkan ke kegiatan pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu (HBBK)yang lebih lestari dan akhirnya mereka mau menjaga hutannya," tutur Nandar.
Menurutnya, aksi menjaga hutan yang dilakukan warga bukan semata-mata menjalankan tugas formal, melainkan lahir dari kesadaran akan pentingnya fungsi hutan bagi kehidupan. Ia berharap melalui kehadiran MPA di kaki Gunung Ciremai, bencana kebakaran dapat terus ditekan.
"Karena Dari nurani mereka merasa bahwa itu hutan mengasihi manfaat-baik airnya, baik HHBK-nya baik oksigennya. Mereka tidak harus disuruh, harus diupah atau apa, mereka secara sukarela bahwa itu hutan kita. Harapannya ya mungkin jangan ada lagi kebakaran di Ciremai ini," tutur Nandar.
Sementara itu, salah satu petani durian di Padabeunghar, Dedi, memaparkan bahwa kaki Gunung Ciremai memang rawan kebakaran saat musim kemarau. Ketika berhadapan dengan api, ia biasanya menggunakan ranting kering dan membuat sekat darurat agar api tidak membesar.
"Sering, sering saya menangani kebakaran. Menanganinya dulu mah paling gebugin pakai ranting karena kan tidak ada air. Seadanya saja, tapi yang efektif agar tidak menyebar. Karena kalau kebakaran menyebar, merugikan kita juga sebagai petani bisa ke lahan warga. Soalnya pernah lahan kebakaran, itu bisa gagal panen," pungkas Dedi.