Makanan yang mudah didapat dapat membuat pola makan menjadi lebih banyak. Ketika makanan yang dikonsumsi juga tinggi gula dan garam serta porsinya berlebihan, berat badan lebih mudah meningkat.
"Dengan perbaikan ekonomi, jadi makanan lebih mudah didapat, jadi orang gampang gemuk, akibatnya bisa darah tinggi, bisa gula umur lebih awal, dan sering juga kurang olahraga," kata Prof Endang.
Kurang berolahraga turut menjadi persoalan. Kebiasaan kurang bergerak dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko berbagai penyakit yang kemudian dapat berpengaruh terhadap ginjal.
Prof Endang juga menyoroti konsumsi makanan yang tinggi gula dan garam. Jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, risiko diabetes dan hipertensi dapat meningkat. Kedua kondisi tersebut merupakan faktor risiko penting dalam terjadinya penyakit ginjal kronik.
Karena itu, pola makan yang lebih seimbang, aktivitas fisik yang cukup, serta pengendalian berat badan menjadi bagian penting untuk menjaga kesehatan ginjal.
Penyakit ginjal kronik dibagi menjadi lima tahap berdasarkan tingkat penurunan fungsi ginjal. Prof Endang menggambarkan fungsi ginjal normal berada di angka 100 persen dan kemudian mengalami penurunan secara bertahap.
Semakin berat penurunan fungsi ginjal, kemampuan tubuh membuang zat sisa dan kelebihan cairan juga semakin terganggu. Kondisi tersebut dapat menyebabkan pembengkakan, penurunan kadar hemoglobin, hingga berbagai komplikasi lainnya.
Meski sudah mengalami penyakit ginjal kronik, pasien tidak otomatis harus menjalani cuci darah. Pada tahap awal, penanganan diarahkan untuk mengatasi penyebab dan memperlambat penurunan fungsi ginjal.
"Kalau sudah cuci darah itu kalau sudah tahap 5 tadi. Jadi tidak semua penyakit ginjal itu cuci darah. Kalau tahapnya masih awal, diobati penyebabnya, dan dibatasi makanannya, targetnya supaya tidak cuci darah," kata Prof Endang.
Terdapat tiga pilihan yang dapat dilakukan ketika sudah mencapai tahap 5, yaitu hemodialisis, dialisis peritoneal, dan transplantasi ginjal.