Hemodialisis merupakan metode yang umum dikenal sebagai cuci darah. Darah pasien dialirkan keluar tubuh menuju mesin untuk dibersihkan dari zat sisa dan kelebihan cairan, kemudian dikembalikan ke tubuh.
Pilihan kedua adalah dialisis peritoneal atau cuci perut. Metode ini memanfaatkan selaput di dalam rongga perut sebagai penyaring. Cairan khusus dimasukkan ke dalam rongga perut untuk membantu mengeluarkan zat sisa dan kelebihan cairan, kemudian cairan tersebut dikeluarkan dan diganti.
Pilihan ketiga adalah transplantasi ginjal, yakni mengganti ginjal yang mengalami kerusakan dengan ginjal dari donor yang sesuai.
Transplantasi membuat pasien tidak lagi bergantung pada mesin dialisis dan dapat memberikan kesempatan untuk menjalani aktivitas dengan lebih leluasa. Meski demikian, pasien tetap harus mengonsumsi obat untuk menjaga ginjal hasil transplantasi sepanjang hidup.
Penyakit ginjal kronik dapat diketahui lebih awal melalui pemeriksaan. Prof Endang mengatakan pemeriksaan urine dapat menjadi langkah awal untuk melihat apakah terdapat kelainan pada ginjal.
Jika ditemukan kelainan, pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan melihat fungsi ginjal melalui pemeriksaan kreatinin. Dokter kemudian dapat mencari penyebab gangguan tersebut, misalnya hipertensi, diabetes, atau kelebihan berat badan.
"Kalau sudah ada kelainan juga, paling mudah memeriksa dengan USG abdomen. Di USG itu bisa dilihat ginjalnya normal atau enggak. Pemeriksaan sebenarnya sederhana dan itu bisa diperiksa di pelosok tanah air juga bisa," ujar Prof Endang.
Pada tahap awal, penyakit yang menjadi penyebab perlu dikendalikan agar penurunan fungsi ginjal tidak terus berlanjut. Pengaturan makanan, termasuk asupan protein dan cairan, juga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Pengendalian tekanan darah dan gula darah menjadi bagian penting dalam mempertahankan fungsi ginjal. Ketika faktor penyebab dapat dikontrol dengan baik, penurunan fungsi ginjal dapat diperlambat.