Hingga kini, TeleOTIVA telah memeriksa lebih dari 2.000 subjek, melibatkan 50 lebih tenaga medis dan dokter spesialis, dengan kemampuan model mencapai 98,14% akurasi, 95,65% sensitivitas, dan 98,82% spesifisitas.
Dari sisi inovasi, Siti memastikan TeleOTIVA sudah memiliki portofolio kekayaan intelektual. Hilirisasi inovasi ini juga diperkuat melalui realisasi lisensi paten bersama PT INTI Konten Indonesia (INTENS) pada tahun 2026.
Siti menyebut pengembangan TeleOTIVA telah menghasilkan berbagai publikasi ilmiah, termasuk penelitian pada Informatics in Medicine Unlocked, IEEE Access, Scientific Reports, dan Sensors yang membahas deteksi, segmentasi, interpretasi, serta pengembangan AI untuk skrining serviks.
Bagi Siti, capaian tersebut memperkuat TeleOTIVA sebagai inovasi yang berbasis riset, terlindungi secara intelektual, terhilirisasi dan berdampak langsung bagi layanan kesehatan masyarakat.