Melihat potensi tersebut, setahun kemudian Pertamina merespons aspirasi warga dengan menerjunkan ahli teknologi pertanian guna mendampingi para petani. Hasil uji coba dan kajian ilmiah akhirnya mematahkan mitos warga.
Ternyata, kendala utama pertanian di sana bukanlah pencemaran limbah industri, melainkan karakteristik tanah tadah hujan yang sepenuhnya bergantung pada curah hujan tanpa adanya sistem irigasi teknis yang mapan.
Tahun berikutnya, kerja keras tersebut membuahkan hasil berupa panen raya pertama. Sarbeni, dari Kelompok Tani Barokah, menjadi pahlawan. Dialah sosok pertama yang melakukan uji coba produksi pangan tersebut.
Sarbeni mengatakan, program pendampingan telah memberikan ilmu pengetahuan bagi warga dalam mengatasi berbagai hambatan krusial, mulai dari serangan hama tikus, burung, belalang hingga tata kelola air lahan tadah hujan.
"Saat pertama kali memulai mencoba menanam, kami hanya berharap apa ditanam dapat tumbuh dan berbuah," kata Sarbeni saat diwawancarai di area persawahan Desa Pengabuan.
Menurut dia, ikhtiar tersebut mendapatkan sesuatu anugerah dari Tuhan, sehingga secercah harapan tumbuh lewat bantuan Pertamina.