Peringatan itu disampaikan bersamaan dengan peluncuran kampanye pemerintah bertajuk "Be Ready" (Bersiaplah), yang mengimbau rumah tangga untuk menyimpan persediaan kebutuhan pokok yang cukup untuk bertahan selama tiga hari jika terjadi keadaan darurat nasional.

Panduan tersebut menyarankan agar masyarakat menyimpan air minum dalam kemasan, makanan yang tidak mudah rusak, uang tunai, dan kebutuhan penting lainnya di rumah.

Pemerintah menyatakan bahwa inisiatif itu bertujuan untuk memperkuat ketahanan nasional, bukan sebagai respons terhadap peringatan intelijen tertentu.

Streeting berpendapat bahwa istilah seperti "perang hibrida" dan "ancaman zona abu-abu" tidak cukup menggambarkan risiko yang ditimbulkan oleh negara-negara yang memusuhi Inggris.

"Sangat penting bagi kita untuk bertanya kepada rumah tangga maupun pelaku bisnis: apakah mereka sudah bersiap? Apakah mereka sudah siap siaga? Apakah mereka tahu bagaimana harus merespons jika muncul tantangan-tantangan yang mungkin terjadi?" ujarnya, sebagaimana dikutip oleh The Mirror.

"Menghadapi ancaman-ancaman tersebut, yang bukan sekadar hipotesis melainkan nyata, dan bukan terjadi di tempat lain melainkan semakin nyata di sini, kita harus meningkatkan upaya dan menanggapi ketahanan nasional serta pertahanan nasional kita dengan serius," tambahnya.

Pemerintah merujuk pada insiden keamanan perangkat lunak PHP baru-baru ini sebagai bukti tambahan perlunya kesiapsiagaan.