NADIKABAR.COM — Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatra dan Kalimantan belum sepenuhnya membaik. Namun, ia memberikan pujian kepada jajaran Forkopimda Riau karena berhasil geser dari urutan pertama ke posisi buncit.
Hal itu disampaikan oleh Raja Juli dalam kunjungannya di Rumah Runding Restorari di Kabupaten Bengkalis, Riau, pada Rabu (30/9/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, dan Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Wibowo.
Mengawali sambutannya, Raja Juli menyampaikan rasa syukur karena dapat berkumpul tanpa kabut asap, di tengah kondisi karhutla di beberapa wilayah yang masih tinggi.
"Alhamdulillah kita di sini bisa duduk dengan enak, segar, tanpa masker. Tetapi saudara-saudara kita di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, bahkan Sumsel hotspot masih naik," kata Raja Juli.
Raja Juli mengakui tantangan dalam penanggulangan karhutla tidaklah mudah. Apalagi di tengah kondisi cuaca kemarau yang panjang saat ini.
"Artinya tantangan kita menanggulangi karhutla masih sangat tinggi dan tidak mudah. Sesuai prediksi BMKKG hujan alami di beberapa tempat baru akan hadir di akhir Oktober, bahkan ada awal November dan akhir November," ungkapnya.
"Ini adalah tantangan kita bersama. Tahun lalu rasanya lebih pekat asapnya ketimbang tahun ini yang ada di puncak El Nino," sambungnya.
Kendati demikian, kata Raja Juli, kondisi karhutla di Riau justru mengalami penurunan. Menurutnya, hal ini membuat para pakar kebingungan.
"Sekarang saya kira pakar nasional maupun internasional yang sempat berinteraksi dengan saya sedang puzzling, kebingungan mencari jawaban kenapa di Riau biasanya urutan nomor satu, tapi alhamdulillah sekarang urutan nomor buncit, terakhir dari hotspot yang ada," paparnya.
Menurutnya, karhutla di Provinsi Riau berhasil menduduki urutan paling buncit karena tidak lepas dari kerja sama dan kolaborasi jajaran TNI-Polri serta Pemda dan instansi terkait lainnya.
"Salah satu potongan jawaban terhadap kondisi saat ini adalah apa yang sedang kita saksikan bersama saat ini. Di mana ini dulu adalah tempat di mana kebakaran hutan yang terjadi, terjadi degradasi gambut, namun berkat kerja sama kita semua," pungkasnya.