NADIKABAR.COM β€” Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan sejumlah kendala evakuasi Helikopter Mi-17V5 yang mengalami insiden saat menjalankan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Menhut dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, mengatakan, kondisi air yang sangat keruh dan berlumpur membuat jarak pandang para penyelam sangat terbatas.

Saat penyelaman sebelumnya, kondisi air membuat penyelam tidak dapat melihat badan helikopter dan hanya bisa mengandalkan perabaan.

β€œJadi kendalanya ini yang harus disampaikan. Pertama memang visibility bagi para penyelam sangat terbatas, airnya sangat kotor, sangat keruh, berlumpur. Sehingga kemarin juga dicoba dimasuki (penyelam), sama sekali tidak bisa dilihat. Jadi hanya bisa meraba badan helikopter tersebut,” ujar Menhut Raja Antoni.

Selain jarak pandang yang terbatas, proses evakuasi juga menghadapi kondisi ombak yang besar. Ia menyebut kedua kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus diperhitungkan dalam upaya penyelamatan korban dan evakuasi badan helikopter.

Meski demikian, tim penyelam telah dibekali informasi mengenai kondisi dan struktur helikopter guna mempermudah proses evakuasi.

β€œNamun tadi sudah disampaikan, kita sudah memiliki gambar dan video Heli Mi-17V5 ini. Jadi nanti para penyelam sudah diberikan pengetahuan yang cukup di mana pintu yang bisa dibuka, di mana pintu darurat yang bisa dibuka dan bagaimana cara melepaskan sabuk dan sebagainya,” ujar Menhut.

Menhut Raja Antoni meminta doa agar seluruh proses evakuasi dapat berjalan maksimal. Ia menegaskan, proses tersebut dilakukan secara bersama-sama di bawah koordinasi seluruh unsur terkait dan merupakan bagian dari perintah Presiden Prabowo Subianto untuk memaksimalkan proses evakuasi dan penyelamatan.

Sebelumnya, tiga kru Helikopter Mi-17V5 gugur saat menjalankan pemadaman karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Tiga kru yang gugur yakni Letkol CPN (Anum) Dudi Firmansyah, Kapten CPN (Anum) Nurhafiz Akbar, dan Sertu (Anum) Heri Prasetyo. Jenazah Letkol (Anum) Dudi telah diberangkatkan untuk dibawa ke Bandung, sementara jenazah Kapten (Anum) Hafiz telah dibawa ke Semarang untuk selanjutnya diserahkan kepada pihak keluarga.

Sementara itu, Sertu (Anum) Hery, hingga saat ini masih dalam pencarian. Tim gabungan terus melakukan upaya pencarian untuk menemukan Serda Hery serta memastikan seluruh proses penanganan insiden berjalan dengan baik.