NADIKABAR.COM — Siang itu matahari di Desa Toro, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah tepat berada di atas ubun-ubun. Sinarnya yang terik terasa menyengat kulit. Namun, semilir angin yang melintasi hamparan sawah dan perbukitan menghadirkan sensasi kedamaian khas pedesaan.

Di salah satu sudut desa, tepatnya di Dusun I Bola, berdiri sebuah sekolah. Bangunannya terbilang sangat sederhana, berbentuk huruf L dengan tiga ruang utama serta lapangan upacara beralaskan tanah berselimut kerikil kecil. Namun, kesederhanaan itu tak menyurutkan semangat dan cita-cita anak-anak Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Alkhairaat Toro.

Tak lama berselang, lantunan azan berkumandang dari pengeras suara masjid di dekat sekolah. Kumandang itu menjadi penanda bagi para siswa dan warga sekitar untuk bersiap menunaikan salat zuhur.

Usai salat berjamaah, satu per satu peserta didik berjalan kembali ke sekolah untuk melanjutkan pelajaran. Siang itu ada yang berbeda; wajah-wajah yang tadinya lelah, seketika berubah ceria dan penuh semangat.

​Mereka diberitahu bahwa mata pelajaran berikutnya tak lagi menatap papan tulis seperti biasa, melainkan menggunakan layar proyektor dengan materi utama seputar literasi digital dan bijak berinternet.

​Bagi mereka dan warga Desa Toro pada umumnya, akses internet serta digitalisasi ibarat sebuah "hadiah". Bukan tanpa alasan, masyarakat yang bermukim di lembah perbukitan ini baru beberapa tahun terakhir benar-benar menikmati jaringan internet melalui Sekolah Internet Komunitas. Walaupun sebelumnya pernah mendengar tentang internet, pemahaman serta kecakapan mereka dalam memanfaatkannya masih sangat terbatas.

Fitri, koordinator Sekolah Internet Komunitas, menceritakan bahwa edukasi penggunaan internet secara bijak awalnya hendak digelar di sekolah. Namun, di saat bersamaan, dusun mereka mendapat giliran pemadaman listrik.

​Tak hilang akal, perempuan berusia 27 tahun itu bersama beberapa rekannya mendatangi pengurus masjid untuk meminta izin memanfaatkan ruang dan fasilitas tempat ibadah tersebut. Berbekal sebuah laptop dan proyektor, mereka tetap membagikan pemahaman seputar dunia digital kepada anak-anak.

​Beragam materi literasi digital pun disampaikan, mulai dari cara mengenali dan mencegah berita bohong (hoax), panduan berinternet secara aman dan sehat, hingga potensi bahaya jika teknologi tersebut disalahgunakan.

Fitri bercerita bahwa Sekolah Internet Komunitas berdiri pada 2024 dari semangat para pemuda setempat yang ingin membangun desa digital di tanah kelahiran mereka. Gagasan inovatif ini tak lepas dari kolaborasi antara Fitri dan rekan-rekannya dengan dua organisasi nirlaba, yaitu Roa Jaga Roa dan Common Room.

​Dari kolaborasi ketiga pihak inilah Sekolah Internet Komunitas resmi terbentuk. Pada awal pendiriannya, delapan pengurus dibekali pengetahuan dasar dan keterampilan teknis, seperti cara mengoperasikan internet hingga melakukan pemasangan kabel jaringan.

Ketika memulai Sekolah Internet Komunitas, Fitri sempat tidak percaya diri. Bagi perempuan, pekerjaan teknis seperti memasang kabel internet kerap diidentikkan dengan kaum laki-laki. Namun, seluruh keraguan itu ia tepis demi satu cita-cita: Desa Toro harus maju dan menjadi percontohan desa digital di Kabupaten Sigi, bahkan Sulawesi Tengah.

Keinginan kuat itu didorong oleh rasa ibanya melihat anak-anak desa yang begitu kesulitan mengakses pengetahuan dan informasi dari dunia luar.