​Menurut Nurlia, salah satu manfaat nyata yang dirasakan adalah kemudahan dalam menyusun bahan ajar serta memanfaatkan media pembelajaran berbasis digital bagi para siswa.

​Ia juga mengapresiasi ketulusan para pengurus Sekolah Internet Komunitas yang tak kenal lelah mengedukasi anak-anak desa meski tanpa imbalan materi.

Menurut Nurlia, edukasi literasi digital yang disampaikan para pengurus Sekolah Internet Komunitas berdampak besar bagi anak-anak. Berkat pembekalan tersebut, mereka mulai memahami cara memanfaatkan internet secara bijak.

​"Sekarang anak-anak sedikit banyak sudah bisa memilah mana informasi yang baik dan mana yang buruk," tutur Nurlia.

​Meski demikian, Nurlia menyadari ada bahaya yang tetap mengintai di balik layar kaca. Oleh karena itu, pihak sekolah melarang keras para siswa membawa gawai (handphone) ke sekolah.

​Kendati begitu, untuk kegiatan belajar tertentu, sekolah tetap mengizinkan penggunaan gawai di bawah pengawasan ketat guru. Guna mengoptimalkan perlindungan anak dari dampak negatif internet, pihak sekolah juga mengedukasi orang tua untuk mengaktifkan fitur verifikasi dua langkah (two-step verification) pada perangkat anak.

​Selain itu, wali murid didorong memanfaatkan aplikasi pemantau (parental control) agar bisa memantau aktivitas digital anak-anak mereka di rumah.

​Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfosantik) Sulawesi Tengah, Wahyu Agus Pratama, menilai Desa Toro sebagai salah satu contoh praktik baik (best practice) penerapan desa digital di wilayahnya.

​Ia menjelaskan, keberadaan Sekolah Internet Komunitas di Desa Toro sejalan dengan program "Berani Berdering"—sebuah kebijakan pemerataan akses internet hingga ke pelosok daerah yang digagas pemerintah provinsi.

​Pada 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengalokasikan anggaran sebesar Rp10,3 miliar untuk program Berani Berdering. Tahun ini, pemprov menargetkan 150 desa dapat terjangkau program tersebut. Khusus Kabupaten Sigi dan Kabupaten Tojo Una-Una, masing-masing dialokasikan untuk 15 desa, sedangkan kabupaten lain masing-masing mendapat kuota 12 desa.

​Porsi lebih besar untuk Sigi dan Tojo Una-Una diberikan karena kedua daerah tersebut baru saja terlepas dari status kabupaten tertinggal.

​Wahyu berharap program Sekolah Internet Komunitas di Desa Toro terus konsisten memajukan potensi desa, sekaligus berjalan selaras dengan program Berani Berdering.