Mirisnya, ketika menghadapi ujian praktik yang membutuhkan komputer atau koneksi internet, anak-anak Desa Toro harus menempuh perjalanan sekitar 85 kilometer menuju Kota Palu. Selain jarak yang jauh, jalur yang harus dilewati pun tergolong ekstrem, penuh lubang, serta menembus lebatnya hutan.
Atas dasar itulah, Fitri dan anggota Sekolah Internet Komunitas bertekad membawa Desa Toro sejajar dengan desa-desa lain di tanah air, khususnya dalam hal kemajuan internet dan digitalisasi.
Hingga kini, Fitri bersama rekan-rekannya tak hanya berhasil membangun jaringan internet, tetapi juga memberikan dampak luar biasa bagi desanya.
Ibu-ibu rumah tangga yang dulunya berjualan dari rumah ke rumah, kini makin terampil menjajakan produk mereka melalui marketplace maupun media sosial. Di sektor pendidikan, anak-anak Desa Toro tak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke Kota Palu untuk mengikuti ujian karena sekolah mereka telah terhubung internet.
Sektor pariwisata dan kebudayaan pun turut menggeliat. Warga setempat kini bisa leluasa mempromosikan kekayaan alam dan budaya Desa Toro ke mancanegara. Tak hanya itu, para petani juga mulai mahir berselancar di dunia maya untuk mencari informasi tentang masa tanam yang tepat, pemilihan pupuk, hingga teknik pertanian modern.
"Para montir bengkel di sini bahkan terkadang melihat tutorial cara memperbaiki sepeda motor lewat YouTube," tutur Fitri.
Menurutnya, berbagai kemajuan ini tak lepas dari pemanfaatan internet yang bijak, aman, dan tepat guna. Kendati demikian, ia tidak menampik bahwa Desa Toro masih membutuhkan penguatan sarana dan prasarana agar bisa benar-benar mandiri serta merdeka dari area blank spot.
Sebagai salah satu penggagas Sekolah Internet Komunitas, Fitri merasa bertanggung jawab untuk menjaga warga Desa Toro agar aman, terlindungi, dan tidak terjebak dampak negatif penyalahgunaan internet.
Demi mencegah penipuan online, judi online, hingga maraknya konten tak sehat, Sekolah Internet Komunitas menjadikan edukasi internet sebagai salah satu agenda prioritas.
Fitri menceritakan, pada 2025 sejumlah warga sempat menelan kerugian hingga Rp1 miliar akibat penipuan online. Belajar dari kasus tersebut, ia dan para pengurus kian gencar memberikan literasi digital demi menekan munculnya korban baru.
"Edukasi ini membuahkan hasil. Di beberapa dusun yang sudah kami datangi, kini tidak ditemukan lagi korban penipuan online," ujar Fitri.
Kehadiran Sekolah Internet Komunitas pun disambut hangat oleh tenaga pendidik setempat. Nurlia, salah seorang guru di MIS Alkhairaat Toro, mengaku sangat terbantu. Pasalnya, sebelum ada komunitas ini, para guru harus bepergian ke desa tetangga, bahkan ke Kota Palu, hanya untuk mendapatkan koneksi internet yang stabil.