Mereka tinggal di asrama dalam satu kawasan Mimika Sports Complex seluas 5.000m2. Setiap hari mereka berlatih sepakbola ditunjang dengan fasilitas lainnya seperti lapangan, gym, fisiotherapy, pendidikan formal, serta mendapatkan program perlindungan anak berdasarkan pedoman FIFA.
Meski demikian, sang pelatih mengajarkan bahwa mereka harus menjadi sosok yang lebih baik dari sang idola. Gelar dan prestasi yang diraih oleh pemain favorit harus bisa memotivasi mereka agar terus mengasah kemampuan hingga menjadi pemain profesional.
"Biasanya coach bertanya, ada pemain kesukaan atau pemain favorit, begitu coach bilang, kita harus menjadikan pemain itu sebagai saingan kita. Atau kita lebih baik dari pemain itu," ungkap Pilipus Bormao Beagaimu.
"Menurut saya, motivasi yang coach berikan mungkin jangan mau kalah dari pemain yang kita idolakan. Dulu dia bermain ambil banyak gelar atau prestasi, berarti jangan mau kalah dari dia, harus lebih baik dari dia. Jadikan dia pacuan buat kita," kata Yansen Terianus Awi.
Tak hanya teknik, Pilipus menyebut attitude dan disiplin menjadi dua hal yang ditekankan selain kemampuan bermain sepakbola. Ia diajarkan bagaimana berbicara dengan orang yang lebih tua serta diberi motivasi untuk tampil percaya diri.
Menurut Kepala Pelatih PFA, Ardiles Rumbiak, PFA bukan sekadar sekolah sepakbola. PFA, kata dia, didirikan untuk membina karakter melalui sepakbola.