"Karena PFA ini didirikan untuk bina karakter melalui sepak bola, bukan sepak bola untuk karakter. Itu yang bedanya," kata Ardiles.
Ia menekankan bahwa mereka tidak hanya belajar sepakbola sebagai individu, tetapi juga belajar hidup sebagai bagian dari sebuah tim. Kebiasaan-kebiasaan kecil seperti disiplin, komunikasi, keberanian berbicara dan kemampuan keluar dari zona nyaman terus dibangun.
Dari sisi potensi, bibit sepakbola Papua dinilai memiliki kualitas fisik yang menonjol. Salah satunya terlihat dari karakter otot yang mendukung perkembangan kemampuan fisik mereka. Dengan dukungan nutrisi, latihan, dan pemulihan yang baik, potensi tersebut dinilai dapat berkembang lebih optimal.
"Saya pikir yang istimewa betul dari anak Papua yang kelihatan, satu, yang mereka punya otot fast switching muscle, otot yang lebih beda. Mereka memang sudah dapat nutrisi bagus, perkembangannya fisik sangat baik," ujar Direktur Akademi PFA, Wolfgang Pikal.
Ia juga menilai kualitas bibit muda Papua semakin meningkat. Dengan hadirnya PFA, generasi muda Papua bisa menyalurkan bakat mereka dan meraih mimpi menjadi pemain sepakbola profesional.
"Saya rasa ada sedikit meningkat soalnya dari PFA yang semua klub dan anak Papua tepat satu impian untuk masuk sini pasti ada motivasi atau inspirasi lebih, soalnya ada PFA sekarang di sini. Banyak anak mau masuk di sini dan memang masuk ke PFA, salah satu cara untuk bisa jadi pemain profesional dan mereka mimpi jadi pemain timnas," pungkasnya.