NADIKABAR.COM — Setiap 24 Oktober, Hari Polio Sedunia mengingatkan bahwa kemenangan dalam kesehatan masyarakat harus terus dirawat.

Berakhirnya wabah merupakan pencapaian besar, tetapi perlindungan anak bergantung pada pekerjaan sehari-hari: imunisasi lengkap, penemuan kasus, dan layanan yang menjangkau keluarga paling sulit diakses.

Bagi Indonesia, pesan itu nyata. Pada 19 November 2025, WHO menyatakan kejadian luar biasa polio tipe 2 di Indonesia berakhir. Keberhasilan tersebut layak diapresiasi sekaligus diteruskan menjadi pemerataan perlindungan. Ukurannya bukan hanya angka nasional, melainkan kepastian bahwa setiap anak memperoleh imunisasi dan setiap penyintas mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.

Ketika inisiatif eradikasi global diluncurkan pada 1988, diperkirakan sekitar 350.000 kasus polio terjadi di lebih dari 125 negara endemik. Sejak itu, kasus akibat poliovirus liar turun lebih dari 99 persen.

Vaksin inaktif Jonas Salk, yang mulai digunakan pada 1955, dan vaksin oral Albert Sabin pada awal 1960-an mengubah perjalanan penyakit ini.

Pengembangan penggunaan vaksin Sabin juga melibatkan peneliti Uni Soviet. Kolaborasi pada masa Perang Dingin memperlihatkan bahwa kerja sama kesehatan dapat bertahan di tengah ketegangan politi, selama tersedia kepercayaan dan komitmen institusional.