NADIKABAR.COM — Sore menjelang petang, aktivitas di kontrakan tiga petak kawasan Kranji, Bekasi, Jawa Barat, mulai bergeliat. Iwan Kurniawan (31) sibuk merias wajahnya bersama anaknya, Rizki (10), serta dua saudaranya, Fikar (22) dan Tole (23). Berbekal properti kuda lumping dan pecutan berukuran kecil, keluarga ini bersiap membelah riuh kota. Riasan dan busana khas pertunjukan menjadi ikhtiar awal mereka untuk menarik perhatian masyarakat sekaligus memperkenalkan warisan tradisi keluarga yang telah diikatkan sejak dini.
Keluarga Iwan tergabung dalam kelompok kesenian Turonggo Putra Mandiri asal Surabaya, Jawa Timur, yang melestarikan kuda lumping, reog, angklung, gotong singa, hingga debus ringan. Dahulu, keluarga besar ini mengibarkan nama kelompok Turonggo Joyo dan Turonggo Anom di kawasan Kota Tua, Jakarta. Namun perubahan kondisi dan penataan kawasan memaksa mereka angkat kaki hingga kini tengah berjuang merintis kembali aktivitas pertunjukan yang sempat vakum total akibat pandemi COVID-19 tersebut.
Ketika tidak mendapatkan jadwal pertunjukan, mereka tidak berdiam diri. Dari sore hingga malam hari, keluarga Iwan memilih turun ke jalanan dan mengitari pasar-pasar lokal. Berbagai atraksi fisik disuguhkan secara aman, seperti menyemburkan api, menari, hingga atraksi makan api. Pertunjukan tersebut membutuhkan aturan serta persiapan khusus, dengan pengetahuan yang diwariskan secara bertahap dan ketat di internal keluarga.
Saat ini, 20 hingga 23 anggota keluarga masih bertahan mempertahankan kesenian tradisional ini. Kecintaan Iwan yang bermula dari sang istri itu terus ditularkan kepada generasi penerus, yang terbukti dari pelibatan Rizki, yang baru berusia 10 tahun. Di tengah gempuran gawai dan media sosial yang makin mengalihkan perhatian masyarakat, Iwan memilih tetap hadir langsung di ruang publik untuk membuktikan bahwa kesenian tradisional, seperti kuda lumping, masih ada dan layak dilestarikan.
Melestarikan kesenian seperti tanggung jawab sebagai generasi penerus, ilmu yang didapat seperti darah yang mengalir dari generasi ke generasi, pengetahuan yang terus dibagikan dan langkah kaki yang tak lelah menyusuri pasar serta jalanan Bekasi, mereka memastikan api tradisi leluhur tetap menyala dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Iwan mengambil kuda lumping saat akan bersiap keliling menghibur sekaligus mengenalkan kesenian kuda lumping di Bekasi.