Meski begitu, Dicky menegaskan bahwa sosok dengan latar belakang non-dokter bukan berarti tidak bisa memimpin organisasi kesehatan global. Menurutnya, pada praktik operasionalnya, jabatan Dirjen WHO lebih banyak menyangkut fungsi manajerial, diplomasi, dan politik.

Dirjen WHO bertanggung jawab mengelola anggaran birokrasi yang sangat besar dengan membawahi lebih dari 8.000 staf di seluruh dunia. Selain itu, tugas utamanya adalah melakukan negosiasi tingkat tinggi antarnegara anggota, bukan melakukan praktik klinis.

"Banyak organisasi kesehatan global yang tetap efektif dipimpin oleh figur non-medis. Kuncinya ada pada keberadaan tim teknis yang sangat kuat di bawah pimpinan tersebut," jelas Dicky.