NADIKABAR.COM — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, estimasi kasus tuberkulosis menunjukkan penurunan dua tahun terakhir, 2024-2026, karena gencarnya upaya skrining serta pengobatan.
"Yang menarik dari PHTC ketiga ini adalah, untuk pertama kalinya Indonesia melihat penurunan dari jumlah insiden Tb. Dan penyebabnya kenapa? Karena kita agresif meningkatkan penemuan jumlah kasus. Mulai tahun 2022 itu naik dari 440 ribu ke 700 ribu, ke 800 ribu, 856 ribu. Sehingga tinggi coveragenya. Karena orang yang ditemukan langsung dikasih obat, dia tidak menularkan lagi," kata Budi.
Dia mengatakan di Jakarta, Kamis, bahwa pada 2026, diperkirakan ada 1.080.000 kasus Tb dan sejauh ini ditemukan 666 ribu. Kemudian, tingkat pengobatan sebesar 90 persen dengan 599 ribu diobati.
Pihaknya menargetkan agar dari estimasi tersebut, 90 persen kasusnya ditemukan, 95 persennya diobati, dan 90 persennya sembuh. Kesuksesan pengobatan, katanya, tergantung dari kedisiplinan pasien itu sendiri.
"Karena Tb itu lama, minum obat itu 4 bulanan. Setiap hari mesti minum obat. Biasanya orang males, begitu males, dia kena lagi. Atau jadi resistant," katanya.
Terkait skrining, katanya, pihaknya melengkapi alat-alat untuk deteksi, seperti mesin X ray yang rencananya dibagikan ke 10 ribu puskesmas dalam 3-4 tahun.
"Kita juga melengkapi dengan biological testing. Jadi TB itu sudah kita lihat ada indikasi, mesti diambil sputum atau dahaknya, kemudian dilihat pakai mikroskop dulu. Sekarang ada mesinnya, sama seperti mesin PCR, untuk memastikan apakah bakteri TB-nya ada di sana atau enggak," kata Budi.
Selain itu, pihaknya juga mengupayakan pencegahan TB pada kontak erat atau keluarga pasien agar tidak tertular, serta memfasilitasi uji klinis tahap 3 untuk vaksin M72.
Untuk meningkatkan kualitas pengobatan, pihaknya juga meningkatkan regimen oengobatan sehingga durasinya turun dari 12 bulan menjadi enam bulan, bahkan empat bulan saja.
Indonesia dan TB Alliance juga mengembangkan regimen pengobatan baru yang berpotensi mempersingkan pengobatan jadi satu bulan saja.
Kemenkes juga bekerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memperluas skrining, seperti ke komunitas, ke lembaga pemasyarakatan (lapas), dan ke pesantren, mengingat tempat-tempat itu banyak orang yang tinggal berdekatan sehingga rawan tertular TB.
Dia menyebutkan bahwa kematian akibat TB sebesar 120 ribu per tahun, sedikit di bawah kematian akibat sakit ginjal yakni 160-170 ribu per tahun.