Sepanjang 2026, kata Suhasil, APBN digunakan secara fleksibel dan responsif untuk menghadapi berbagai tantangan, termasuk penanganan bencana, menjaga stabilitas harga serta ketersediaan energi dan pangan di tengah kenaikan harga minyak dunia dan ancaman El Nino.
"APBN memberikan berbagai stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat dan keberlanjutan dunia usaha. Fleksibilitas tersebut tetap dijalankan dengan prinsip kehati-hatian dan disiplin fiskal. Di tengah berbagai kebutuhan dan tekanan, APBN tetap dikelola secara pruden dengan menjaga defisit di bawah 3 persen dari PDB," ujarnya.
Ia menegaskan kebijakan fiskal harus tetap pruden, tetapi tidak pasif dalam menghadapi berbagai tantangan.
βKebijakan fiskal harus tetap pruden tetapi tidak pasif. Fiskal harus hadir untuk menjaga momentum pertumbuhan, melindungi masyarakat dengan tetap menjaga kredibilitasnya,β kata Suahasil menegaskan.
Adapun kebijakan fiskal 2027 dirancang tetap ekspansif dengan target defisit sebesar 2,4 persen terhadap PDB.
Sementara itu, Pemerintah dan DPR RI menyepakati kenaikan belanja negara dalam APBN 2027 sebesar Rp9,07 triliun menjadi Rp4.106,26 triliun dari sebelumnya Rp4.097,19 triliun.