"Kalau kita mengikuti pemberitaan sehari-hari dan kita juga merasakan langsung di kehidupan kita, ini terasa betul bahwa dunia semakin borderless, semakin terhubung satu sama lain, tapi ironisnya di sana-sini kita merasakan terjadinya fragmentasi," tutur AHY.

Lebih lanjut, dia juga menyoroti lompatan teknologi yang signifikan, semakin diperlukannya kerja sama antarnegara, tetapi kepercayaan terhadap institusi internasional justru semakin melemah, serta semakin sulitnya menghadirkan konsensus antarbangsa saat dunia membutuhkan kepemimpinan global.Menurut AHY, kondisi tersebut memunculkan prinsip national interest comes first (kepentingan nasional diutamakan). "Memang inilah sejatinya negara itu dibangun, pertama dan utama adalah untuk negaranya, untuk rakyatnya dulu. Tapi dalam takaran yang ekstrem, maka ini akan menghadirkan tantangan bahkan permasalahan baru di dunia saat ini. Karena yang harusnya kita bersatu mencari solusi, akhirnya kita seperti sektoral, masing-masing, sendiri-sendiri," tuturnya. Dia lalu mengutip landasan filosofi yang dikemukakan oleh Thucydides, yakni the strong do what they can, the weak suffer what they must.

"Artinya ketika national interest first dan dikaitkan dengan semangat ini, maka tidak ada pilihan atau sedikit pilihan bagi negara-negara selain memperkuat dirinya sendiri. Karena tidak mau menjadi korban, menjadi the weak yang suffering di dunia yang penuh ketidakpastian," imbuhnya.