Bahlil mengungkapkan kebutuhan listrik dari rencana pengembangan pusat data dapat mencapai tambahan 20 gigawatt.
Besaran tersebut setara dengan sekitar 20 persen dari kapasitas listrik eksisting.
Karena itu, pemerintah akan menyinkronkan rencana pembangunan pusat data dengan kesiapan pasokan listrik.
Bahlil mengatakan data mengenai lokasi investasi diperlukan agar penyediaan energi dapat direncanakan secara lebih tepat.
Ia juga menekankan pengembangan pusat data harus disertai kolaborasi dengan pengusaha nasional dan daerah.
Pemerintah, menurut dia, ingin memastikan investasi teknologi tinggi tidak hanya memberikan manfaat bagi investor, tetapi juga menghasilkan dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek.