NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar menekankan peran pesantren dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan yang membekali santri dengan karakter, keterampilan, dan kemampuan mengembangkan potensi untuk kemandirian.
“Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar. Pesantren bisa menjadi ruang untuk membangun manusia yang punya karakter, keterampilan, kemampuan melihat peluang, dan pada akhirnya mampu mandiri,” ujarnya di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa.
Ia mengatakan pemberdayaan perlu dimulai dengan membangun kapasitas manusia karena pendidikan tidak cukup hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga perlu memberi ruang bagi peserta didik untuk mengenali minat dan potensinya.
Menurut dia, peserta didik perlu mendapat kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, mencoba menciptakan sesuatu, hingga mampu melihat peluang yang dapat dikembangkan dari lingkungan sekitarnya.
Model tersebut diterapkan di Pesan Trend yang memadukan kurikulum nasional, pendidikan Al Quran, permakultur, dan pembelajaran berbasis keterampilan hidup.
Santri tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga terlibat dalam pertanian, peternakan, pengolahan limbah, pengembangan kopi, produk santri, hingga wisata edukasi sebagai bagian dari pembelajaran berbasis potensi lokal.
“Yang penting dalam pemberdayaan adalah bagaimana anak-anak ini tidak hanya disiapkan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang dan mengembangkan potensi yang ada di sekitarnya,” katanya.
Muhaimin menilai berbagai inisiatif yang tumbuh dari masyarakat seperti di Pesan Trend perlu diperkuat melalui akses, pendampingan, dan kolaborasi agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Ia mengatakan pemerintah tidak perlu mengambil alih gerakan yang telah tumbuh di masyarakat, tetapi dapat memperkuat kapasitas dan memperluas dampaknya melalui kerja sama dengan berbagai pihak.
Menurut Muhaimin, praktik baik yang berkembang di pesantren dapat menjadi pembelajaran bagi komunitas lain untuk membangun model pemberdayaan sesuai dengan potensi lokal masing-masing daerah.
Sementara penggagas dan pendiri kawasan Kampung Pemuda, Ustadz Hanan Attaki mengatakan pengembangan kawasan tersebut merupakan bagian dari perjalanan gerakan Pemuda Hijrah sejak 2015 yang kini memasuki tahap membangun model pemberdayaan anak muda.
“Periode pertama kami membuat tren, alhamdulillah pada 2015 sampai 2020 lahir tren hijrah di Indonesia. Periode kedua kami membuat model dan lokasi. Kawasan ini salah satunya, sebuah kawasan kolaboratif anak muda,” ujar Hanan.
Ia mengatakan model tersebut selanjutnya akan diperluas ke berbagai daerah agar semakin banyak anak muda memiliki ruang untuk belajar, berkolaborasi, dan mengembangkan potensi sesuai karakter masing-masing daerah.
“Harapan kami setelah ini bisa scale up di seluruh Indonesia. Ini bukan franchise, tetapi movement. Silakan ditiru dan dikembangkan secara gratis sesuai kebutuhan daerah masing-masing,” katanya.
Muhaimin menegaskan pemberdayaan bukan untuk membuat masyarakat bergantung, melainkan membangun kemampuan agar masyarakat dapat berdiri sendiri melalui pengembangan potensi yang dimiliki.