Salah satu bidang potensial untuk dikembangkan bersama adalah pengolahan sampah menjadi energi atau Waste-to-Energy (WTE). Uzbekistan menargetkan 11 fasilitas WTE dalam 3 tahun ke depan dan Indonesia menargetkan sekurangnya 18 fasilitas WTE beroperasi hingga akhir 2029.
Kedua negara memiliki kepentingan yang sejalan dalam membangun tata kelola persampahan modern dan terintegrasi berbasis ekonomi sirkular. Dalam pertemuan tersebut, Indonesia juga berbagi pengalaman rehabilitasi sekitar 2 juta hektare lahan kritis selama 2015-2025, termasuk 90.000 hektare mangrove.
Pemerintah menetapkan sekitar 579 kawasan konservasi seluas 27 juta hektare (Ha), termasuk 48 taman nasional, guna perlindungan keanekaragaman hayati.
"Pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Kami melihat peluang kerja sama yang luas dengan Uzbekistan, mulai dari pengelolaan sampah menjadi energi, konservasi dan taman nasional, hingga pertanian berkelanjutan," kata Zulhas.
"Kemitraan ini penting agar pembangunan hari ini tetap menjaga bumi bagi generasi mendatang," sambungnya.
Serangkaian pertemuan ini memperkuat hubungan Indonesia dan Uzbekistan yang telah terjalin selama 34 tahun. Indonesia mendorong hubungan bilateral yang semakin produktif, tidak hanya dalam perdagangan dan investasi, tetapi juga dalam ketahanan pangan, inovasi pertanian, energi bersih, dan perlindungan lingkungan.