NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (PM) Abdul Muhaimin Iskandar mengatakan pemerintah sedang menggodok pembekalan pemberdayaan untuk menjadi kurikulum di pondok pesantren maupun madrasah aliyah.

"Mematangkan konsep pemberdayaan dalam ekosistem pendidikan," kata Menko Muhaimin Iskandar usai rapat koordinasi dengan Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta, Senin.

Hal ini mempertimbangkan kondisi ekonomi para santri yang mengenyam pendidikan di pesantren mayoritas berada pada desil 1 hingga desil 4.

Menurut dia, upaya ini bertujuan untuk menyiapkan para lulusan pesantren dan madrasah aliyah yang siap kerja dan siap mandiri untuk berwirausaha.

"Siap kerja itu artinya yang siap diserap lapangan kerja yang sesuai level pendidikan menengah. Siap berusaha dengan memasukkan unsur-unsur pemberdayaan dan kemandirian sehingga lulusannya bisa siap menjadi pelaku usaha," kata Muhaimin Iskandar.

Ia mengatakan saat ini ada banyak pesantren yang sudah menjadi komunitas ekonomi yang produktif.

Salah satunya Pesantren Al-Ittifaq di Bandung, Jawa Barat, yang menjadi pelopor eco-pesantren dan pusat kemandirian agribisnis.

"Pesantren Al-Ittifaq di Bandung bisa dijadikan contoh pesantren sebagai komunitas agrobisnis yang tidak saja dapat menghidupi pesantrennya, tetapi juga menghidupi masyarakat dan pesantren lainnya," kata Muhaimin Iskandar.

Pihaknya pun mengajak sejumlah kementerian dan perusahaan melalui CSR-nya untuk membantu mendukung pemberdayaan pesantren dan madrasah aliyah ini.

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menambahkan bahwa di Indonesia tercatat ada 80.000 madrasah dan 42.000 pondok pesantren di bawah Kementerian Agama.

"Pada umumnya mereka itu adalah desil 1 sampai 4," kata Nasaruddin Umar.