"Jadi memang kita harus belajar. Big business-nya, teknologinya harus. Kampus harus mau belajar, pondok juga harus mau belajar. Kalau kita tidak belajar ini, kita akan tertinggal terus," ujarnya.

Ayam kampung di tanah air, menurut Zulhas, juga kalah jauh produktivitas telurnya dibandingkan ayam hasil rekayasa genetika dari luar negeri. Ayam kampung hanya menghasilkan sekitar 1 Kg telur per tahun sebab hanya bertelur sekitar 2 bulan. Sedangkan ayam hasil rekayasa genetika mampu bertelur selama 320 hari.

"Ayam broiler 30 hari sudah bisa 1,5 Kg, 38 hari 2 Kg ayam itu. Kita setahun sekilo belum tentu, kurus. Jadi ini memang ada ilmunya, sunatullahnya istilahnya yang harus kita pelajari," terangnya.