Meutya meminta generasi muda tidak hanya mencari jawaban, tetapi belajar menemukan pertanyaan yang tepat serta memahami prinsip, kemampuan, dan keterbatasan teknologi di balik setiap aplikasi yang digunakan.
Selain itu, anak muda harus menciptakan solusi dari Indonesia untuk Indonesia, misalnya memanfaatkan AI untuk membantu guru, mendukung petani, meningkatkan efisiensi UMKM, dan memperluas akses layanan publik.
Kepemimpinan digital, kata dia, juga harus beretika dan kolaboratif. Menurutnya, pertanyaan tidak berhenti pada apakah teknologi dapat dibangun, tetapi juga mengapa teknologi itu dibutuhkan, siapa yang memperoleh manfaatnya, dan risiko apa yang perlu dilindungi.
Meutya menambahkan jika generasi Sumpah Pemudah 1928 menyatakan tekad membangun bangsa, maka generasi sekarang harus memiliki kesempatan menyatakan pengetahuan, inovasi, dan teknologi untuk membawa bangsa menuju masa depan yang cerah.