Menurutnya, ada tiga kemampuan utama yang harus dimiliki generasi muda untuk menjadi pencipta dampak melalui AI, yakni berpikir kritis dan berani bertanya, berani menciptakan inovasi, serta bertanggung jawab.

Kemudahan teknologi tidak boleh membuat anak muda hanya menjadi pengguna, tetapi harus mendorong lahirnya karya dan solusi yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Pemanfaatan AI dinilainya juga harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di berbagai daerah.

Contohnya, penggunaan AI dan Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan lumbung padi di Sragen; membantu petambak ikan nila di Sukabumi menghemat listrik; serta mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mampu membaca data pelanggan.

Pengembangan AI juga harus didukung dengan data beragam agar tidak bias dan mampu merepresentasikan kebutuhan masyarakat dari Sabang sampai Merauke.

"AI baru menjadi bisa dipertanggungjawabkan ketika dia mengoleksi data yang beragam. Selama belum, maka dia menjadi teknologi yang sangat bias. Dia cenderung menyenangkan penggunanya saja, dia memberi validasi, bukan informasi. Padahal, yang kita perlukan untuk produktivitas, bukan validasi, tapi informasi yang akurat," ujarnya.